thumb

Dampak Jika Tidak Menjaga Lisan & Kiat-kiat Menjaga Lisan dari Keburukan

Lisan adalah salah satu nikmat terbesar dari Allah ﷻ yang dianugerahkan kepada manusia. Dengannya, manusia dapat mengungkapkan pikiran, menyampaikan kebaikan, dan berdakwah di jalan Allah. Namun, pada saat yang sama, lisan juga bisa menjadi sebab utama manusia terjerumus dalam dosa dan neraka.

Jika lisan mampu di kendalikan dengan baik maka akan menghantarkan seseorang dalam kebaikan dan surga, dan sebaliknya jika lisan tidak mampu dikendalikan maka akan menghantarkan seseorang dalam keburukan dan neraka.

Lisan sejatinya memiliki keterkaitan yang erat dengan hati. Para ulama menegaskan bahwa lisan adalah cermin hati seseorang. Apa yang terucap dari lisan seseorang sejatinya merupakan refleksi dari kondisi batinnya.

Yahya bin Mu’adz رحمه الله berkata:

اَلْقَلْبُ كَالْقِدْرِ يَغْلِي بِمَا فِيهِ، وَاللِّسَانُ مِغْرَفَتُهُ، فَانْتَظِرْ حَتَّى يَتَكَلَّمَ، فَإِنَّكَ تَنْظُرُ إِلَى مَغْرَفَتِهِ فَيُخْبِرُكَ عَنْ قَلْبِهِ حُلْوًا أَوْ حَامِضًا، مَالِحًا أَوْ عَذْبًا.

“Hati itu seperti panci, ia akan mendidihkan apa yang ada di dalamnya, sedangkan lisannya adalah gayungnya. Maka tunggulah seseorang berbicara, karena lisannya akan mengambilkan untukmu apa yang ada di dalam hatinya: bisa manis, asam, asin, atau tawar.”

(Hilyatul Auliya, 10/63)

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah رحمه الله juga menegaskan:

فَالْخَبِيثُ يَتَفَجَّرُ مِنْ قَلْبِهِ الْخُبْثُ عَلَى لِسَانِهِ وَجَوَارِحِهِ، وَالطَّيِّبُ يَتَفَجَّرُ مِنْ قَلْبِهِ الطَّيِّبُ عَلَى لِسَانِهِ وَجَوَارِحِهِ.

“Orang yang busuk akan terpancar dari hatinya kebusukan melalui lisan dan anggota badannya. Sedangkan orang yang baik, akan terpancar dari hatinya kebaikan melalui lisan dan anggota badannya.”

(Zaadul Ma‘ad, 1/68)

Keterkaitan antara hati dengan lisan juga disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam Sabda beliau:

 لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ

“Tidak akan lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya hingga lurus lisannya.”

(HR. Ahmad, 12575)

Dari sini, jelas bahwa lisan adalah barometer hati. Bila hati bersih, lisannya akan mengeluarkan ucapan baik dan bila hati kotor, lisannya akan penuh dengan kebohongan, caci maki, dan celaan.

Akibat Tidak Menjaga Lisan

Saudaraku, ketahuilah jika anda tidak mampu menjaga lisan maka disitulah akan muncul dosa-dosa akibat lisan yang tak dijaga, oleh sebab itu Rasulullah sangat mengkhawatirkan jika lisan seseorang tidak dijaga, karena diantara hal yang banyak menjerumuskan seseorang kedalam neraka adalah karena lisan, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ

“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dosa lisan dan kemaluan.”

(HR. Tirmidzi, 1927)

Harusnya hadits ini selalu menjadi peringatan dimanapun kita berada, agar kita senantiasa menjaga lisan kita, agar lisan tidak menjerumuskan kita kedalam neraka.

Saudaraku, terkadang adakalanya seseorang berucap dengan suatu kalimat yang sejatinya ia tidak mengetahui dampak buruk dari kalimat tersebut, dan dizaman kita ini banyak kalimat-kalimat yang buruk dijadikan kebiasaan.

Nabi ﷺ Mengingatkan dalam sebuah hadits:

 إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang tidak ia pikirkan dampaknya, lalu ia terjerumus karenanya ke dalam neraka yang lebih jauh dari jarak timur dengan barat.”

(HR. Tirmidzi, 2616)

Hadits ini menjadi ancaman bagi seseorang agar hendaknya menjaga lisan dan tidak bermudah-mudahan dalam berucap, apalagi kalimat yang buruk dijadikan sebuah kebiasaan. Na'udzubillahi Mindzalik.

Perhatikanlah wahai saudaraku bagimana para salaf berusaha menjaga lisan mereka dan mengingatkan agar tidak mengucapkan kalimat yang buruk.

Diriwayatkan bahwa Abu Bakr As-Shiddiq رضي الله عنه pernah memegang lisannya dan berkata:

إِنَّ هذَا أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدَ

“Sesungguhnya (lidah) ini menjerumuskan ke dalam banyak kebinasaan.”

(HR. Malik dalam al-Muwaththa’, 2/988

Mengapa Lisan Harus Dijaga?

Ketahuilah saudaraku, bahwa setiap ucapan yang diucapkan oleh seseorang akan dicatat, maka hendaknya kita senantiasa selektif dalam berucap, jika ucapan tersebut memiliki kebaikan maka mengucapkannya lebih utama seperti berdakwah, menyampaikan kalamullah, hadits Nabi dan lain-lain, namun jika tidak maka lebih baik kita menahan diri kita untuk berucap.

Allah ﷻ mengatakan: 

 مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”

(QS. Qaf: 18)

Bagaimanakah Cara Menjaga Lisan?

Diantara hal yang bisa dilakukan seseorang agar mampu menjaga lisannya dalam berbicara adalah:

1. Perbanyak dzikir – agar lisan terbiasa pada ucapan yang diridhai Allah.

2. Muraqabah (merasa diawasi Allah) – menyadari setiap kata dicatat malaikat.

3. Berpikir sebelum berbicara – menimbang maslahat dan mudarat ucapan sebelum dikeluarkan.

4. Menjauhi teman buruk – karena pengaruh lingkungan sangat kuat,  karena bisa jadi teman akan mempengaruhi seseorang dalam ucapannya.

5. Membiasakan diam – diam adalah keselamatan dari banyak dosa.

Semoga lima kiat-kiat diatas jika dilaksanakan dengan baik akan membantu seseorang dalam menjaga lisannya.

Saudaraku, ketahuilah bahwa menjaga lisan adalah ibadah yang besar, tanda keimanan, dan kunci surga bagi seorang hamba. Karena itu, seorang mukmin hendaknya selalu berhati-hati dalam setiap ucapannya.

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita dan senantiasa mampu menjaga lisan dalam berucap. Aamiin.


Penulis: Mashudi Malik, S.Ag., M.Pd.



Komentar

blog comments powered by Disqus